Pada awal perjuangan Islam, tersebutlah sekelompok prajurut Muslim ditawan pihak Rumawi setelah berkecamuk perang. Komandan peasukan Rumawi berkata kepada sang kaisar, "Diantara tawanan, ada seorang prajurut yang amat gagah berani."
"Bawalah kemari! Aku ingin melihatnya," perintah kaisar Rumawi.
Kaisar duduk diatas singgasana yang dihiasi dengan berbagai permata. Siapa saja yang datang menghadap kaisar, ia harus menunjukan rasa hormat dengan membungkukan badan layaknya ruku. Si prajurit mengetahui tradisi penghormatan ala Rumawi tersebut.
Tentu saja prajurit pemberani enggan membungkukan badannya kepada kaisar. "Aku tak akan pernah membungkukan badanku untuk kaisar. Aku malu terhadap pemimpin Muslimin, Muhammad bin Abdullah, kalau aku menghadap kaisar Rumawi dengan membungkukan tubuh layaknya orang-orang kafir," kata prajurit kepada pengawal kerajaan.
"Singkirkan permata ini agar orang muslim itu dang menghadap kepada ku," titah kaisar kepada para pengawal.
Para pengawal segera menjemputnya. Prajurit pemberani datang menghadap kaisar dengan berjalan tegap berwibawa. Lalu, kaisar bercakap dengan prajurit dan berkata,"Terimalah agama kami dan aku akan mengangkatmu sebagai gubernur di wilayah kekuasaanku. Aku juga akan memberimu banyak uang agar engkau dapat apa yang engkau inginkan."
Pria muslim malah bertanya,"Seberapa lias negeri Rumawi di bandingkan luas dunia?"
"Kemungkinan sepertiga atau seperempat luas dunia," jawab kaisar.
"Jika engkau memenuhi dunia dengan emas dan permata dan memberikannya kepada ku sebagai ganti dari mendengan adzan sehari saja, aku tidak akan menerima dunia semacam itu."
"Apa adzan itu? Apa maksudmu?"
"Kecintaan kepada Muhammad telah mengakar kuat dalam hati pria Muslim ini. Aku yakin saat ini tidak mungkin ia akan meninggalkan agamanya ," pikir kaisar.
Kaisar tak kehabisan akal untuk membuat si prajurit menjadi kafir. Diperintahkannya kepada para pengawal untuk menyiapkan sebuah bejana besar penuh air untuk didihkan. Kaisar hendak merebus prajurit yang berani tersebut.
Para pengawal mulai mengikat dan memasukan prajurit ke dalam bejana saat air mulai mendidih. Sebelum masuk kedalam air mendidih, prajurit Allah mengucapkan Bismillah ar-Rahman ar-Rahim
Mahasuci Allah, walaupun direbus dalam air yang sangat panas, dengan kuasa Nya, prajurit bisa selamat hingga air bejana habis. Semua orang menyaksikan begitu heran dan merasa takjub.
Akan tetapi, peristiwa itu tak menyurutkan niat si kaisar. Terjadilah tawar menawar antara kaisan dan prajurit Islam.
"Bersujudlah kepada ku dan aku akan membebaskan dirimu dan semua tawanan," bujuk kaisar.
"Dalam ajaran agamaku, tidak dibenarkan bersujud kepada selain Allah," jawab prajurit.
"Kalau begitu ciumlah tanganku dan aku pasti akan membebaskan dirimu dan juga teman-temanmu itu."
"Tidak dibenarkan mencium tangan selai mencium tangan kedua orangtua atau raja yang adil, seorang yang alim atau guru."
"Jika demikian, ciumlah keningku agar aku bebaskan kalian semua."
"Aku bersedia melakukannya dengan satu syarat," Ujarnya.
"Lakukan sesuka hatimu."
Lalu dilepaslah tali pengikan badan prajurit. Segera ia berjalan menuju kaisar di atas singgasana. Kaisar sudah siap untuk dicium prajurit Islam. Dengan cerdik, prajurit meletakan sehelai kain di atas kening kaisar dan mencium kain seolah mencium kening si kaisar.
Kaisar Rumawi menepati janjinya. Ia membebaskan semua tawanan Muslim termasuk prajurit pemberani yang cerdik. Kaisar membekali para tawanan dengan harta yang cukup banyak sebagai hadiah. Kaisar menulis surat kepada pemimpin kaum Muslim. "Jika pria ini berada di negeri kami dan meyakini agama kami, bukan hanya menyembah, melainkan kami akan mengabdikan diri sampai mati." Begitu kata kaisar dalam suratnya.
(Dikutip dari buku Kisah Bismillah hingga Al-Fatihah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar